Kamis, 27 April 2017

Perkembangan Situasi HAM Papua di Era Globalisasi

Gambar. Foto bersama dengan Bapa Filep Karma



Pada tanggal 27 April 2017. Pak Filep Karma diundang dalam suatu wadah Organisasi kemahasiswaan di Kampus UKI Jakata yaitu IMACE (Ikatan Mahasiswa Cenderawasih), untuk menjadi pemateri Tunggal  dengan tema : “Perkembangan Situasi HAM Papua di Erah Globalisasi...”

Pak Filep merupakan seorang aktor/ otak dari kejadian Biak Berdarah, yang telah memakan banyak korban jiwa. Ada banyak pelajaran yang dibagikan olehnya, mulai dari Tak-tik, dan solusi-solusi teknis dalam perjuangan dan dalam menghadapi traumatis akibat dari Pembunuhan semena-mena yang dilakukan oleh TNI/POLRI.

Gambar. Saat buka Diskusi
Ia mengatakan, “Berjuang tanpa harus tumpah darah. Pada saat saya di dalam penjarah sebagai tahan politik selama 11 tahun saya ditawarka Grasi, Amnesti tetapi saya berfikir kalau terimah Grasi, amnesti, berarti saya menyatakan kalau apa yang sudah saya perbuat adalah salah. Mengenai pelanggarang HAM tidak ada perubahan dari dulu sampai sekarang, dalam kasus pelanggarang HAM yang di Lakukan oleh Indonesia,  Indonesia memperlakukan Rasis kepada Rakyat Papua, dan setidaknya rakyat Papua dalam perjuangan jangan melihat dari Gunung, Pante, karena kita satu, Papua. Hal ini adalah Tamparan paling besar dan ini merupakan Indikator pemecah belah dalam Perjuangan Papua Merdeka...” Imbuhnya.

“Cita-cita saya dari sejak saya duduk di bangku sekolah adalah membebaskan rakyat Papua dari Penjajahan Indonesia, yang mestinya kita berbenah diri dalam perjuangan hilangkan rasa takut, dan  perjuang harus relah berkorban dan tetap pada komitmen hidup yang tinggi. Mengenai wartawan Papua tidak dianggap walau menunjukan kartu Pers walau dalam kunjungannya Joko Widodo di Merauke tahun 2016 lalu ia mengatakan bahwa Papua bebas Jurnalis Asing Masuk, namun dibantah oleh Panglia TNI dan MENKOPOLHUKAM...”

Gambar. Tampak Pak Karma sedang membagikan Materi.
“Dalam perjuangan Papua merdeka, pegang Yesus beru berjuang. Seandainya Indonesia memberikan kemerdekaan kepada Rakyat Papua, dengan syarat Filep dibunuh, saya relah beri diri saya, asal Papua Merdeka.  Iring perjuangan Papua Merdeka bagi bermain Catur, dan sepanjang kita benar pertahankan, dan jangan kalah gertak. Supaya kita ketahui bahwa, Dana OTSUS pada 2001 itu dana tidak dicairkan, tetapi dicairkan tahun 2002.  Diskriminasi yang dilakukan oleh TNI/POLRI di poles lebih halus di beberapa kota di Papua tetapi hampir dari keseluruhan daerah Pegunungan Papua diskriminasi berlaku secara Fulgar...”

Diskusi yang durasinya 4 Jam itu berjalan secara kondusif, dan peserta diskusi yang hadir juga aktif dalam memberikan Pertanyaan kepada Bapak Filep Karma. Ditambahnya “Menurut saya akar dari Korupsi yang ada di Papua adalah dana APBN, APBD, dan Otsus ini digabungkan maka terciptalah celah Korupsi besar-besaran. Saya menangis melihat gadis-gadis Papua yang di manfaatkan oleh Pejabat-Pejabat Papua sebagai penghibur. ..”.

Usai Mareri dilanjutkan dengan Sesi tanya-jawab, dan ditutup.

Penulis : Gideon M. Adii

Senin, 12 Desember 2016

Alasan Adolf Hitler Membunuh Orang Yahudi....?

Gambar. Adolf  Hitler
          Gate Wiyai. Jakarta.13/12/16. Pembunuhan orang Yahudi secara masal adalah pembohongan yang sangat besar yang mereka rancangkan sebelum berdirinya negara Israel. Logisnya bahwa, jika ada pembunuhan masal maka dunia akan jatuh simpati pada kaum Yahudi yang konon ditindas, Islampos.
          Pembantaian orang Yahudi oleh Pimpinan Adolf Hitler seorang diktator Jerman dikarenakan beberapa alasan mengapa ia membunuh habis orang Yahudi:
Gambar. Korban Orang Yahudi

1. Ibunya meninggal dini di tangan orang Yahudi
2. Seluruh bank pribadi, kepemilikan saham, para broker, termasuk surat kabar, dan dominasi orang
     Yahudi  di Jerman adalah 80%.
3. Agama kristen dan agama Yahudi
4. Secara biologis dan secara rasial berbedah dengan Jerman.
5. Keterpurukan ekonomi Jerman akibat kaum Yahudi pada revolusi Rusia.
6. Dinyatakan bahwa Orang Yahudi sangat keras kepala, demi kawannya mereka rela
     menggadaikan   nyawanya. Sampai mereka melarikan diri ke Palesitina, dan mereka membuat
      suatu perkumpulan dan mengklaim bahwa Palestina adalah tanah mereka, dan membuat suatu
      negara  Israel. (Gide Adii)....

Senin, 08 Agustus 2016

Sejarah Penamaan Puncak Carstensz di Papua

          Gate Wiyai. Papua yang artinya tanah di kaki Langit, Istilah IRIAN (barat) ini dipakai dalam istilah kepemimpinan Presidek Soekarno  yang memiliki muatan Politis. Sampai pada Resim Paranoid Presiden Soeharto. Pada masa presiden Soeharto nama Irian Barat diganti dengan nama Irian Jaya. Hingga akhirnya pada tahun 2000, ketika Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) berkunjung ke pulau Papua, Istilah Irian itu diganti dengan Papua. Pulau yang membentuk menyerupai seekor burung besar.
Gambar. Puncak Carstensz

          "Sebuah wilayah besar yang terbelakang dan terdiri atas gunung-gunung, rawa-rawa, yang terbentang luas. Para penduduknya adalah orang-orang berambut keriting, berkulit hitam, peralatan mereka adalah Kapak Batu, kulit Kerang, dan tongkat-tongkat kayu. Senjata mereka adalah Panah dan Busur. Mereka hidup dalam Kondisi Zaman Batu yang Primitif".
Dalam otobiografinya, Presiden Soekarno menggambarkan Papua sebagai

          Pelacakan pertama terhadap kekayaan alam yang terkandung di Pulau Papua sudah dilakukan oleh orang Eropa pada abad ke-18 sampai pertengahan adab ke-19, orang Spanyol dan Belanda beru malakukan pecakan garis-garis pantai secara global, itupun dilakukan dari tengah-tengah Laut, kadang mereka Ke darat.
Gambar. Indigo Ortiz Retes

          Orang Belanda memberikan stigma orang Papua sebagai Barbar (Tidak beradab) melalui penamaan yang diberikan oleh Belanda  terhadap orang Papua yang terdengar seram. Penduduk Papua sendiri menyebut diri mereka dengan nama suku atau wilayah. Seorang Penemu yang berasal dari Spanyol Inigo Ortiz Retes, yang mengunjungi pulau Papua pada tahun 1545, menamakan pulau itu dengan nama Nova-Guinea (Guinea Baru) karena, tanah dan penduduknya mengingatkan dia akan apa yang sudah dilihatnya di Guinea Afrika barat.

          Sesudah perang dunia Ke-II selesai mulai dipakai nama Biak untuk pulau yang sekarang dikenal dengan nama Papua, yang artinya "Kepala keriting". Dan Orang Belanda menamakan Keerom ( Berbalik), Wilddemansriver (sungai orang liar), dan Moordenaarsbaai (Teluk Pembunuh). Dengan tujuan untuk menganggap rendah orang Papua untuk dijadikan budak untuk melayani kepentingan ekonomi mereka.
Pada tanggal 12 Februari 1623, seorang pelaut dari negeri Belanda Jan Carstensz berlayar ke laut Arafura. Misinya adalah mencari budak di pulau-pulau yang dianggap belum terjamah oleh Eropa untuk diperjual belikan.
          Puncak Jaya ialah sebuah puncak yang menjadi bagian dari Barisan Sudirman yang terdapat di provinsi Papua, Indonesia. Puncak Jaya mempunyai ketinggian 4884 m dan di sekitarnya terdapat gletser Carstenz, satu-satunya gletser tropika di Indonesia, yang kemungkinan besar segera akan lenyap akibat pemanasan global. Puncak ini pernah dinamai Poentjak Soekarno dan merupakan gunung yang tertinggi di Oceania. Puncak Jaya adalah salah satu dari tujuh puncak dunia. Nama-nama/ejaan lain: Ngga Pulu (“Ngga” berarti gunung), Gunung Carstensz, Piramida Carstensz, Puncak Carstensz, Puncak Jayakesuma, Puncak Piramida, Carstensz, Ndugundugu. Pada tahun 1963, Puncak ini diganti nama menjadi Puncak Soekarno, kemudian diganti menjadi Puncak Jaya. Tetapi nama Pyramida Carstensz sendiri masih digunakan di kalangan para pendaki Gunung.


Gambar. Jan Carstensz
          Dalam hariannya yang ia tulis bahwa, ini terdapa suatu keunikan. Dimana letak keunikannya...? Jika, dilihat dari sisi Geografis pegunungan itu terletak di daerah tropis yang hanya memiliki dua musim, yaitu: musim panas dan musim hujan. Keberadaan Salju di Puncak Pegunungan itu yang membuatnya Unik. Dapat dijelaskan bahwa, "Walaupun pulau Papua berada di daeran tropis, namun sedah berada pada batas daerah  salju. Dan oleh Karena itulah, tidak heran apabila puncak-puncak gunung yang berada ditengah-tengah pulau berbentuk burung besar itu di selimuti oleh Salju".

        
Carstensz mendokumentasikannya dalam bentuk tulisan dalam sebuah buku catatan miliknya. Agar generasi berikutnya dapat memanfaatkannya sesuai dengan kepentingan mereka. Mengenai ini tersebar dari mulut ke mulut di antara orang-orang Eropa yang belum pernah menyaksikannya secara langsung.

          Barisan pegunungan itu di kemudian hari dinamakan dengan Pegunungan Carstensz oleh orang Eropa. Tetapi oleh penduduk setempat yang pegunungan yang atapnya diselimuti oleh Salju tersebut beri nama puncak itu ialah: NGGA PULU. (Gide Adii)


Google Menghilangkan Palestina dari Peta Google

          Gate Wiyai. Senin, 08 Agustus 2016 00:01. Petisi online yang menuntut Google untuk mengembalikan peta Palestina mendapat banyak dukungan. Pasalnya, raksasa teknologi asal Amerika Serikat itu menghilangkan Palestina di Peta Google.
 
          Hingga saat ini, lebih dari 114 Ribu orang telah menandatangani petisi yang beralamat di change.org tersebut. Mereka ikut memprotes tindakan Google yang tidak mengakui keberadaan Palestina. 
Melalui JawaPos.com - Diketahui, Palestina telah dihapus dari Google Maps sejak 25 Juli 2016. Si pembuat petisi menyebut bahwa tindakan Google sangat tidak manusiawi karena tidak mengakui hak warga   Palestina dalam memperjuangkan kemerdekaan negaranya.
         

Gambar. Peta Palestina

           "Whether intentionally or otherwise, Google is making itself complicit in the Israeli government's ethnic cleansing of Palestine. (Entah sengaja atau tidak, Google seolah melibatkan diri dalam pembersihan etnis Palestina yang digencarkan Israel)" tulis dalam petisi tersebut.

          Petisi yang bertajuk "Google: Put Palestine On Your Maps!" ini juga menuliskan bahwa masalah ini penting. Sebab, Google Maps sudah menjadi rujukan warga dunia, termasuk yang mencermati situasi Israel-Palestina. Jika dibiarkan, maka akan memicu instabilitas politik dunia dan memutarbalikan sejarah dan geografi.  

          "Please join us in calling on Google to recognize Palestine in Google Maps (Silahkan bergabung dengan kami menuntut Google untuk mengakui Palestina di Google Maps)" tulisnya di akhir petisi. 
Petisi tersebut pun langsung mendapat banyak komentar miring yang ditujukan kepada Google. Di antaranya Aufan Lisan Shidqi Masyhudi. 

            Dia menuliskan "Palestine is the real country i boycot google".
"It's Palestine not Israel" timpal Husam Ghassan di komentar berikutnya. (Gide Adii) 

Sumber:http://www.jawapos.com/read/2016/08/08/43574/google-hilangkan-palestina-di-peta-ratusan-ribu-orang-protes/2


Perlawanan Rakyat Mee Terhadap NKRI

           Gate Wiyai. Bila kita membuka kembali Sejarah Perlawnan orang Papua, bulan Juli adalah Puncak dari Rakyat Papua yang di wakili oleh orang Mee  di Paniai   melakukan perang menolak kehadiran Indonesia di Papua di Hadapan PBB dan UNTEA. Dan dalam semangat itu, kami menulis sebuah kisah yang indah menjelang Perang antara Indonesia dan Orang Papua yang di wakili oleh orang Mee berlangsung di Paniai.
Gambar. Karel O. Gobai
          Lewat pertemuan sejenak dan diskusi di sore itu, pada esok  harinya orang yang sama kembali lagi dengan di temani Karel Gobay seorang terdidik orang Mee yang saat  itu menjabat sebagai Wakil Bupati Paniai menjelang Pepera 1969. Kedua  orang ini masuk komleks sekolah  SGB YPPGI dan  ijin pak guru Sumule dan memberikan semacam diskusi tentang Papua dan ajakan untuk belajar yang serius. Setelah sekitar 2 jam memberikan cerama, bersama Karel Gobay, mereka dua jalan dalam diskusi serius namun dengan suara yang tertahan dalam mulut.
           Belakangan di ketahui, Willem Zonggonauw datang ke Enarotali untuk mengecek sampai sejauh mana hasil persiapan pertemuan rahasia bersama di Jayapura yang di hadiri oleh  Kabupaten Jayapura, Biak, Jayawijaya,Yapen Waropen, Manokwari, Sorong, Fakfak, Merauke dan Paniai yang bersepakat untuk gagalkan PEPERA 1969. Dimana sesuai kesepakatan di Soekarnapura, mereka meminta agar Indonesia menarik semua pasukan, Menghetikan pembunuhan,culik dan teror kepada orang Irian dan minta agar UNTEA tidak memihak Indonesia dan bila tidak, semua petugas UNTEA dan PBB yang di anggap memihak Indonesia dan tidak netral dalam persiapan pelaksanaan PEPERA 1969 harus di bunuh  .
           Willem Zonggonau datang saat Karel Gobay melakukan persiapan, dimana saat itu orang Mee sudah beberapa kali menyampaikan pendepat kepada Indonesia,UNTEA dan PBB agar Tentara Indonesia di tarik sebelum pelaksanaan PEPERA 1969 dan meminta UNTEA dan PBB agar netral dalam persiapan PEPERA 1969. Namun semua aspirasi ini tidak di indahkan mereka. Dan untuk menyikapi tuntutan orang Mee ini, sesuai kesepakatan Karel Gobay sudah membicarakan rencana untuk gagalkan PEPERA 1969 dengan semua Dewan Perwakilan Rakyat di Paniai melalui ketuanya David Pekey.
           Kemudian membagi pos perlawanan kepada para Polisi putra daerah, dimana untuk melakukan perlawanan di wilayah Mapia, pimpinannya Karel berikan kepada Mapia Mote dengan titik/ lokasi pertempuran di Degei Dimi; Wilayah Kamu dibawah pimpinan Garis Adii dengan titik/lokasi pertempuran di Ode Dimi; Wilayah Tigi dibawah Pimpinan Senin Mote dengan titik/ lokasi pertempuran Iya Dimi dan Okomo Tadi; Wilayah Paniai Barat dibawah pimpinan Kores Pigai dengan titik/lokasi pertempuran di Ogiyai Dimi; Wilayah Paniai dibawah pimpinan Karel Gobay sendiri dengan titik/lokasi Pertempuran Enarotali,Dagouto dan Bunauwo dan semua orang Mee sudah mengetahui itu.
           Setelah sekitar 1 minggu di Enarotali, Willem Zonggonau kembali ke  Soekarnapura dengan menaiki pesawat AMA milik Misi  Katholik dari Epouto setelah memberi cerama kepada siswa SMP YPPK St.Franmsiscus Epouto ,dan kepergiannya menjadi cerita yang heboh di semua siswa SGB YPPGI Enarotali saat itu.
           Lepas kepergian Zonggonauw,pada tanggal 25 April 1969, beberapa siswa SGB YPPGI dari Weyadide yang hadir dalam pertemuan masyarakat dengan Karel Gobay membawa kabar bahwa Karel Gobay  baru saja panah seekor sapi yang besar di Kampung Aikai dalam pertemuan itu dan hanya dengan sebuah anak panah, sapi besar itu mati di tempat, sehingga Karel Gobay menyatakan siap berperang melawan Indonesia.
           Mendengar berita bahwa Karel siap perang  untuk  batalkan Pepera 1969,semua siswa SGB YPPGI Enarotali di liburkan oleh pihak Sekolah dan berharap agar Siswa SGB saat kembali ke Daerah masing – masing, bisa mengajar untuk praktek di kampung mereka yang ada sekolah.
           Sementara Siswa SGB siap – siap untuk kembali ke daerah masing, masing,  tepat tanggal 1 Mei 1969 pemimpin perang Karel Gobay meninggalkan Jabatan sebagai Wakil Bupati Kabupaten Paniai dan mengambil alih komando dan menyatakan perang menolak PEPERA 1969 yang jelas – jelas pasti tidak netral.Sekaligus memerintahkan, Mapia Mote di Degei Dimi; Garis Adii di Ode Dimi; Senin Mote dan Aman/Thomas Douw Di Iya Dimi dan Okomo Tadi untuk melakukan perang.
           Dalam perintah yang sama, tanggal 2 Mei 1969 Karel Gobay mengumumkan kepada seluruh masyarakat yang berdomisili di Meuwodide Paniai segera mencari tempat persembu nyian, serta Karel Gobay melakukan boikot semua fasilitas umum seperti gedung-gedung perkantoran dan lapangan terbang Enarotali. Dan saat itulah datang Sarwo Edi Wibowo ke Enarotali untuk membicarakan persoalan itu dan saat mendarat dengan pesawat, Polisi Mambrisu melepaskan peluruh dari senjatanya di Lapangan terbang Enarotali mengenai salah satu personil yang ikut rombongan Sarwo Edi Wibowo dan pecalah perang antara TNI dan rakyat bangsa Papua yang berdomisi di wilayah Paniai selama 3 (tiaga) bulan yaitu bulan Mei sampai dengan bulan Juli 1969 di depan mata PBB sebagai bukti bahwa orang Asli Papua menolak Pepera 1969 yang penuh penipuan dan curang serta penuh Intimidasi dan Pembunuhan.
           Di depan UNTEA dan PBB, Pasukan Indonesia dari semua kesatuan di terujunkan di Paniai dengan basis penerjunan di Okomotadi dan Wanghete. Sebelum Penerjunan, TNI menghaburkan BOM dari udara dengan pesawat B-2 di sekitar Danau tigi,lalu dengan tiga buah pesawat, TNI di hambur dari Udara. Semua orang Mee siap siaga dan berperang. Militer mulai masuk melakukan operasi mulai dari Moanemani hingga Paniai.Banyak orang Mee terbunuh dan juga TNI/Polisi.
           Perang Tahun 1969 di Enarotali berlangsung kurang lebih selama 3 (tiga) bulan lebih yaitu mulai Tanggal 2 Mei sampai dengan bulan Juli tahun 1969 dan dalam pertempuran di beberapa wilayah /titik pertempuran berjalan sangat sengit dan sana sini terdapat banyak korban jiwa berjatuhan baik pihak TNI dari NKRI maupun rakyat Bangsa Papua di Paniai termasuk harta benda mereka tetapi Karel Gobay selaku pemimpin perang tetap kobarkan semangat juangnya.
             Dalam kondisi demikian tepat pada bulan Juli 1969 Karel Gobay mendapat sebuah surat yang dikirim oleh Ketua C&MA Pdt. Katto, orang  America Serikat. Yang sebelumnya di minta oleh Brig.Jend.Sarwo Edi Wibowo yang saat itu menjabat Panglima Kodam cendrawasih di Jayapura. Setelah membaca surat tersebut,dalam surat  Katto meminta kepada Karel Gobay bertemu di Perumahan Misionaris di Kebo II Paniai  Utara. Karel menyetujui. Sesuai kesepakatan, tanggal dan hari yang dijanjikan, Katto terbang dari bandara udara Sentani Jayapura dengan menggunakan pesawat milik MAF dan sekitar pukul,11 siang Katto mendarat di bandar udara Kebo II dan Katto langsung melakukan pertemuan singkat dengan Karel Gobay.
         Dalam pertemuan itu sesuai permintaan dan kesepakatan dia dengan Panglima Kodam Cendrawasih, Pdt.Katto memaksa Karel Gobay untuk segera hentikan perang dan menyerahkan diri kepada pemerintah dengan dengan mengatakan;  Tuntutan Pengakuan Kedaulatan Bangsa Papua Barat merupakan masalah seluruh Bangsa Papua Barat tetapi mengapa Rakyat Paniai di bawah pimpinan Karel Gobay saja yang melakukan perlawanan melaui perang kepada NKRI;Lalu Karel jawab, perlawanan ini di lakukan oleh seluruh Bangsa Papua sesuai kesepakatan kami  tetapi saudara – saudara kita di 8 (delapan) kabupaten yang lain sementara kami tahu mereka ada dalam tindakan kekerasan yang dilakukan oleh TNI NKRI sehingga mereka tidak bisa buat apa-apa.
         Setelah jawab itu Katto kembali menyampaikan bahasa Propagandanya dengan kembali menyampaikan banyak Masyarakat yang tidak berdosa telah korban didalam perang yang Saudara pimpin ini bagaiman, lalu Karel Gobay mengatakan saya siap bertanggung jawaba pengorbanan  jiwa mereka dihadapan Tuhan Yang Maha Kuasa diakhirat nanti; dan  saya percaya Tuhan tidak akan adili saya karena tindakan saya ini membela kebenaran.  Karena Karel memberi Jawaban perlawanan maka; Pdt.Katto yang warga negara Amerika yang saat itu menjabat sebagai pemimpin C&MA ini dalam ketergesannya mengambil Alkitab  dan meletakkannya diatas meja  dan mengambil selembar Bendera Bintang Fajar yang dibawah dari Jayapura  diatas meja pertemuan lalu  mengajukan pertanyaan kembali kepada Karel Gobay.
            Dari kedua benda ini Karel mau pegang Alkitab atau Bendera bintang Fajar.Melihat dan mendengar pertanyaan itu, Karel Gobay mengambil kedua benda tersebut dan menggenggam Alkitab ditangan kanan dan Bendera BangsaPapua ditangan kiri dan secara tegas Karel Gobay menjawab Saya pegang kedua duanya. Melihat itu Katto kembali memohon kepada Karel Gobay denga mengatakan saat ini sebaiknya saudara pegang Alkitab sedangkan untuk Bendera ini sebaiknya anda simpan di tempat ini dan dikemudian hari nanti  dilanjutkan oleh anak cucu Saudara. Lepas pertemuan itu,  Karel Gobay tanpa melakukan kesepakatan dengan rakyat Paniai yang masih semangat berperang, mengambil keputusan hentikan perang.
        Mendengar pernyataan Karel Pdt.Katto membawa Karel Gobay ke Jayapura dengan Karel mengenakan pakaian pimpinan perang, dan didampingi dua orang yang lain yaitu Manis Yogi dan Kuyai Bedo Adii  dari berangkat dari Kebo II dengan menggunakan pesawat terbang Cessna milik MAFke Jayapura untuk Karel pertanggung jawabkan Perag 1969 di hadapan Pemerintah Indonesia melalui Panglima wilayah Maluku dan Irian Barat yaitu Brig.Sarwo Edi Wibowo. Pukul,12,00 WIT, Karel bersama kedua orang pengantar dan Pdt.Katto Tiba di di bandar udara Sentani dan Karel di jemput dengan pengawalan yang ketat oleh TNI. Di Celah pengawalan yang ketat itu ada suara dari seorang tokoh politik  pemerintah Hindia Belanda dan dia katakan  Tuan Gobay kamu sudah menang perang namun anda tidak didukung oleh saudara-saudara dari  8 (delapan ) Kabupaten yang lain.
             Di hadapan Panglima Wilayah Maluku dan Irian Barat Brig.Jend.Sarwo Edi Wibowo, Karel Gobay mempertanggung jawabkan apa saja dilakukannya,dan mereka katakan  Karel anda adaah Pejabat Negara NKRI yang telah melawan Ideolgi Pancasila.Lalu Karel katakan, perbuatan saya ini hanya untuk mempertahankan Ideologi Bangsa Papua Barat.
         Nau sebagaimana kesepakatan awal, Pemerintah Indonesia memintah agar  Karel Gobay kembali bekerja sebagai Wakil Bupati Kabupaten Paniai sepertibiasanya.Namun tidak alam kemudian di tahun 1971,sementara dia ke Jakarta untuk berobat,dia di hentikan Presiden Soeharto.(Gide Adii)...
Penulis Adalah Peduli Pemerhati Papua....
Sumber: https://papuapost.wordpress.com/2016/07/23/mengingat-kembali-tokoh-papua-merdeka-karel-gobay/